Oreology

Softskill

Pembuatan Ontology Learning Object Pada E-Learning

 

  • Latar Belakang

Perkembangan internet dan e-learning [1] dengan aplikasi dan tools baru yang menyertainya, secara cepat telah mengubah bentuk atau cara pembelajaran yang lama. Pada cara pembelajaran yang lama, content e-learning yang merupakan salah satu komponen e-learning didistribusikan dengan gaya semi terstruktur. Prinsipnya content tersebut dapat diakses secara online. Namun dalam memperoleh content yang sesuai banyak menemui masalah yang disebabkan terbatasnya pemberian kata kunci pada content tersebut. Sayangnya, web (termasuk e-learning) dibuat untuk konsumsi manusia, bukan untuk mesin. Mesin hanya dapat membaca web tapi tidak memahami isi dari web

tersebut. Sehingga pencarian content sangat tergantung dengan kata kunci yang diberikan pada content tersebut. Web semantik [2,3] sebagai generasi baru dari teknologi web sangat menjanjikan untuk diterapkan pada e-learning. Teknologi web semantik membuat web atau komponen dalam web tersebut dapat dipahami oleh mesin. Cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menambahkan metadata ke dalam web atau komponen web. Dalam perkembangannya e-learning content berubah menjadi learning object [4] dengan adanya penambahan metadata [5]. Adanya tambahan metadata tersebut dapat membuat isi dari learning object menjadi lebih tepat untuk dikenali.

Masalahnya adalah learning object yang ada masih belum terorganisasi sehingga perlu dibuatkan ontology [6] yang dapat memudahkan dalam proses mencari dan mendapatkan learning object tersebut. Tujuan penulisan ini adalah merancang dan membuat ontology Learning Object yang dapat digunakan untuk mencari dan mendapatkan materi

dalam web e-learning. Dalam penulisan ini akan di jabarkan proses pembuatan dari ontology mulai dari

pendefenisian, pembuatan dan penimpanan ontology, semantik ke dalam database dan pengujian.

 

2. Pendefinisian komponen Ontology

Komponen pembangun ontology terdiri dari Class dan Property.

 

2.1 Komponen Class

Komponen Class didefinisikan berdasarkan kajian terhadap standar LOM (Learning Object Metadata). Tidak semua metadata dalam standar LOM digunakan dalam mendefinisakn class, hanya sebagian yang dianggap penting saja yang digunakan di sini. Dalam penelitian ontology learning object ini, mengklasifikasikan class menjadi sepuluh class utama (dokumen, jenis dokumen, materi, orang, status dokumen, tingkat interaksi, tingkat kesulitan, tingkat pendidikan, tipe interaksi, tipe materi), beberapa class utama tersebut masih terbagi menjadi subclass. Dari kesepuluh class yang sudah terdefinisi tidak semuanya memegang peranan penting dalam pemodelan ini. Hanya class dokumen dan materi yang menjadi pokok perhatian. Class yang lain tetap dimodelkan dengan pertimbangan dapat dikembangkan di masa yang akan datang.

 

  • Perumusan Masalah
  1. Bagaimana penjabaran proses pembuatan ontology beserta impelementasinya untuk dimanfaatkan dalam proses pencarian suatu learning object?
  2. Bagaimana hasil pencarian yang dilakukan dengan memanfaatkan ontology?

 

  • Metodelogi

Dalam penulisan artikel ini, pembahasan dibatasi pada penyebatan dan perencanaan pembuatan ontology hingga didapat penjabaran proses pembuatan ontology beserta implementasinya untuk dimanfaatkan dalam proses pencarian suatu learning object.

 

  • Inti Pembahasan

Hasil dari ontology yang dirancang dan dibuat, mampu untuk dapat mengorganisasikan learning object ke dalam domain tertentu, sehingga hasil pencarian berdasarkan ontology pun dapat memberikan hasil yang maksimal serta beragam. Selain itu, pemberian kata kunci pada learning object juga dapat berpengaruh kepada hasil pencariannya.

Dalam pembuatan onlotogy, pendefinisian class juga sangat berpengaruh bagi pengelompokan learning object. Semakin detail class yang dibuat, maka semakin dekat pula hubungan antar learning object yang berada dalam satu kelompok yang sudah ada.

Selain itu, kesesuaian dan juga ketepatan dalam hasil pencarian sangat ditentukan oleh berapa banyak kata kunci yang terdapat dalam learning object serta pendefinisian class dalam ontology.

 

  • Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan selama proses perancangan, implementasi, uji coba dan analisa, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Ontology yang dihasilkan sudah mampu untuk mengorganisasi learning object ke dalam

domain tertentu.

2. Hasil pencarian berdasarkan ontology memberikan hasil yang lebih beragam.

3. Pemberian kata kunci pada learning object sangat mempengaruhi hasil pencarian.

4. Pendefinisian class dalam pembuatan ontology sangat berpengaruh kepada pengelompokan   

    learning object. Semakin detail class-class yang dibuat, semakin dekat hubungan antar

    learning object yang berada dalam satu kelompok.

5. Ketepatan dan kesesuaian hasil pencarian ditentukan oleh berapa banyak kata kunci yang

terdapat dalam learning object serta pendefinisian class dalam ontology.

 

  • Daftar Pustaka

[1] URL:

http://ltc.lionair.co.id/mod/forum/discuss.ph p?d=6.

[2] Hebeler, John., Matthew Fisher., Ryan Blace and Adrew Perez-Lopez.2009, Semantic Web Programming. Wiley. Indianapolis. Publishing, Inc.

[3] Henze, N., Peter Dolog and Wolfgang Nejdl, 2004, “Reasoning and Ontologies for Personalized E-Learning in the Semantic Web”.

[4] URL: http://en.wikipedia.org/wiki/Learning_object.

[5] Learning Technology Standards Committee.2002, “Draft Standard forLearning Object Metadata”.. New York. 2

Institute of Electrical and Electronics Engineers, Inc

[6] Bernard Renaldy Suteja & Ahmad Ashari. 2008, “Ontology e-Learning Content berbasis Web Semantic”.

[7] Horridge, Matthe.W, 2009, A Practical Guide To Building OWL Ontologies Using Prot´eg´e 4 and CO-ODE Tools Edition 1.2. The University Of Manchester.Manchester.

[8] Murray, Chuck, 2010, Semantic Technologies Developer’s Guide 11g Release 2 (11.2). Oracle

[9] URL: http://www.w3.org/1999/07/13-persistant-RDFDB

[10] Yu, Liyang, 2007, Introduction to the Semantic Web and Semantic Web Services..London. Chapman & Hall/CRC

[11] URL: http://space.meruvian.org/jeni/JENI_1_Materi.zip?attredirects=0&d=1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Leave a comment »

Pengaruh Bahasa Indonesia Untuk Dunia

Dalam pembahasan tulisan kali ini, Bahasa Indonesia masih akan tetap menjadi topic hangat yang saya post. Peranan bahasa bagi dunia tentu sangat berpengaruh besar, ditambah lagi dengan keberagaman bahasa dari seluruh Negara bahkan dunia.

Bahasa Indonesia ialah merupakan bahasa resmi Republik Indonesia dan juga termasuk ke dalam bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia adalah bahasa kerja (working language).

Berikut ini beberapa point yang menjelaskan fungsi bahasa :

  1. 1.       Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri

Disaat seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya itulah masa dimana anak-anak mulai mempelajari pentingnya berbahasa. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak akan lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.

Contoh lain dari pembahasan bahasa sebagai alat ekspresi diri yakni, tulisan kita dalam sebuah buku,  merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.

Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, tentunya pengguna bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.

Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :

–         agar menarik perhatian orang  lain terhadap kita,

–         agar orang tetap memperhatikan kita ketika sedang berbicara,

–         keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi

Menurut Gorys Keraf, pada taraf  permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang  sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri .

  1. 2.        Bahasa sebagai Alat Komunikasi

Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.

Bahasa sebagai alat komunikasi yaitu merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Gorys Keraf mengatakan bahwa ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita.

Disaat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, pastilah kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami dan juga diperhatikan oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.

Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional.

Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri.

Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal,asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.

  1. 3.        Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial

Disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat  hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Gorys Keraf mengemukakan bahwa beliau memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya

Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati .

Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

  1. 4.      Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial 

Bahasa sangat berperan efektif sebagi alat kontrol sosial. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.

Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. klan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.

Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

Dari sudut pandang linguistika, bahasa Indonesia adalah suatu jenis yang berasal dari bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19, namun mengalami perkembangan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja dan proses pembakuan di awal abad ke-20. Hingga saat ini, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.

Meskipun saat ini dipahami oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa Indonesia tidak menduduki posisi sebagai bahasa ibu bagi mayoritas penduduknya. Sebagian besar warga Indonesia berbahasa daerah sebagai bahasa ibu. Penutur bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Namun demikian, bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di surat kabar, media elektronika, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.

Fonologi dan tata bahasa bahasa Indonesia dianggap relatif mudah.  Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.

Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi bahasa Melayu karena dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Alfred Russel Wallace menuliskan di Malay Archipelago bahwa “penghuni Malaka telah memiliki suatu bahasa tersendiri yang bersumber dari cara berbicara yang paling elegan dari negara-negara lain, sehingga bahasa orang Melayu adalah yang paling indah, tepat, dan dipuji di seluruh dunia Timur. Bahasa mereka adalah bahasa yang digunakan di seluruh Hindia Belanda.” Selanjutnya, Jan Huyghen van Linschoten, di dalam buku Itinerario (“Perjalanan”) karyanya, menuliskan bahwa “Malaka adalah tempat berkumpulnya nelayan dari berbagai negara. Mereka lalu membuat sebuah kota dan mengembangkan bahasa mereka sendiri, dengan mengambil kata-kata yang terbaik dari segala bahasa di sekitar mereka. Kota Malaka, karena posisinya yang menguntungkan, menjadi bandar yang utama di kawasan tenggara Asia, bahasanya yang disebut dengan Melayu menjadi bahasa yang paling sopan dan paling pas di antara bahasa-bahasa di Timur Jauh.”
Jadi dapat ditarik kesimpulan yang telah dilihat dari sejarahnya bahwa bahasa indonesia itu bisa saja di jadikan bahasa internasional. karena bahasa indonesia digunakan di asia tenggara dan juga di dunia, karena di timor leste saja bahasa indonesia digunakan sebagai bahasa kerja. dan bahasa indonesia diambil dari bahasa melayu dan katanya bahasa indonesia itu bahasa yang dianggap relatif mudah, tapi pada kenyataannya padahal orang indonesia sendiri ada yang sulit untuk menggunakan bahasa indoneisa yang benar. jadi tidak ada salahnya apabila seluruh dunia mengenal bahkan bias mempelajari bahasa Indonesia.

Di zaman sekarang ini, pemakaian bahasa sudah sangat mendunia. Setiap penduduk sudah banyakbisa berkomunikasi dengan warga yang berbeda Negara. Karena masing-masing individu merasa penasaran dan ingin mempelajari secara mendalam bahasa yang ingin dipelajarinya. Bahkan kini, misalnya saja di Negara Arab Saudi.

Bahasa Indonesia di Arab Saudi semakin lama memang dirasakan semakin popular, bukan saja karena banyaknya jumlah  komunitas Indonesia di Arab Saudi, namun juga karena berbagai upaya Perwakilan RI dalam mempromosikan bahasa Indonesia di Negara petro dolar tersebut.

Salah satu nya adalah lewat lomba pidato bahasa Indonesia bagi penutur asing dengan tema “Aku Cinta Belajar Bahasa Indonesia” yang diadakan pada 4 Juli 2012 di kantor KJRI Jeddah. Kegiatan yang diadakan dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan RI ke-67 tersebut mendapatkan perhatian tersendiri  dari warga asing khususnya warga Arab Saudi. Sebanyak 9 warga asing ikut berkompetisi dalam lomba yang baru pertama kalinya diadakan di Arab Saudi. Tercatat 1 orang warga sudan, dan 8 orang warga Arab Saudi menampilkan kebolehannya berpidato di hadapan sekitar 50 penonton yang terdiri dari para warga Asing.

Acara yang disponsori oleh Garuda Indonesia dan Restoran Betawi – Jeddah ini dihadiri oleh Plh. Konjen RI Jeddah Cahyono Rustam, Fikdanel Thaufik GM Garuda Indonesia Arab Saudi, Hussein Muhammad Daghiri Kepala Siaran Bahasa Asiang Radio Kerajaan Arab Saudi, Miftahul Jannah Kepala Seksi Siaran Bahasa Indonesia Radio Kerajaan Arab Saudi dan para peserta Kursus bahasa Indonesia di KJRI Jeddah. Bertindak selaku Dewan Juri  Nur Ibrahim Pelaksana Fungsi Pensosbud II, Muzaffar Syahidu dan Rafiq Rakip kedua nya adalah pegawai KJRI Jeddah. Ketua Panitia HUT RI Moehammad Amar Ma’ruf dalam sambutannya mengatakan bahwa lomba pidato bahasa Indonesia bagi penutur asing merupakan bagian dari upaya Perwakilan RI untuk mempromosikan bahasa Indonesia di Luar Negeri, dan meningkatkan people to people contact.

“Indonesia adalah Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Jumlah penduduk Indonesia saat ini lebih dari 250 juta jiwa. Selain itu, Indonesia adalah Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Saat ini, bersama Arab Saudi, Indonesia masuk dalam Negara kelompok G-20. Artinya semakin hari posisi Indonesia semakin penting bagi dunia Internasional. Karena posisi Indonesia semakin penting di dunia maka peran bahasa Indonesia di dunia juga semakin penting,” demikian diungkapkan oleh Dr, Redha Siraj Al-Thigah dalam pidatonya yang mengantarkanya menjadi Juara I dalam lomba tersebut.

Al-Thigah, yang meraih gelar doktor dari University of Brandford Singapura berhasil membawa pulang tiket Garuda Indonesia Jeddah – Jakarta – Jeddah. Kepada para peserta lain diberikan voucher makan gratis masing-masing senilai SR 125 di Restoran Betawi Jeddah. Di sela-sela acara juga diadakan penyerahan sertifikat peserta kursus bahasa Indonesia di KJRI periode bulan Maret – Mei 2012 yang diserahkan oleh Plh Konjen RI Jeddah Cahyono Rustam. Cahyono Rustam menambahkan bahwa KJRI Jeddah telah mengadakan kursus bahasa Indonesia bagi penutur asing sejak tahun 2004 hingga saat ini. Warga asing di Arab Saudi menyambut baik Kursus BIPA ini, terbukti tidak kurang dari 40 orang tiap tahunnya mendaftarkan diri untuk mngikuti kursus yang diadakan 2 kali seminggu secara gratis. Di akhir acara panitia juga mempromosikan kuliner Indonesia melalui hidangan santap malam dengan menyajikan sate, sop ikan, dendeng balado, perkedel dan capcay dari Betawi Restaurant. Terlihat para peserta dan penonton sangat menyukai menu Indonesia.

 

Dari kutipan cerita mengenai peranan bahasa Indonesia di salah satu Negara dunia yaitu Arab Saudi, maka kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia tentunya harus merasa bangga, bahasa resmi kita justru sangat dihargai oleh bangsa Arab Saudi, bahkan mereka ingin mengikuti kursus bahasa Indonesia.

Jika saya mempunyai wewenang untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia, maka dengan bangga tentunya saya akan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia. Alasan terkuat dari hal tersebut karena bahasa Indonesia susunan katanya jelas, mempunyai makna yang rapi, dan mudah dimengerti.

 

 

Referensi:

1. http://www.hidayatullah.com/read/23527/08/07/2012/bahasa-indonesia-mulai-diminati-di-arab-saudi.html

2. http://sandhyswanzz.blogspot.com/2012/10/peranan-bahasa-indonesia-di-dunia.html

Leave a comment »

Peranan Bahasa Indonesia untuk Bangsa Indonesia

Hello bloggers!

Dalam tulisan kali ini, saya akan membahas mengenai “Peranan Bahasa Indonesia untuk Bangsa Indonesia”.

 

Sudah kita ketahui sejak dulu, bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi dari bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa Indonesia, yang terdiri atas berbagai suku dan etnis dengan latar belakang bahasa berbeda.

Menurut Sunaryo, tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).

Sebagai lambang dari identitas nasional, bahasa Indonesia kita junjung disamping bendera dan lambang Negara kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri pula sehingga ia serasi dengan lambang kebangsaan kita yang lain. Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya hanya apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur – unsur dari bahasa lain.
Fungsi bahasa Indonesia yang ketiga – sebagai bahasa nasional – adalah sebagai alat perhubungan antar warga , antar daerah, dan antar suku bangsa. Berkat adanya bahasa nasional kita dapat berhubungan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kesalah pahaman sebagai akibat perbedaan latar belakang social budaya dan bahasa tidak perlu dikhawatirkan.kita dapat bepergian dari pelosok yang satu ke pelosok yang lain di tanah air kita dengan hanya memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya alat komunikasi.

Fungsi bahasa Indonesia yang keempat dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, adalah sebagai alat yang memungkinkan terlaksananya penyatuan berbagai – bagai suku bangsa yang memiliki latar belakang social budaya dan bahasa yang berbeda-beda kedalam satu kesatuan kebangsaan yang bulat. Didalam hubungan ini bahasa Indonesia memungkinkan berbagai bagai suku bangsa itu mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai – nilai social budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan. Lebih dari itu, dengan bahasa nasional itu kita dapat meletakkan kepentingan nasional jauh diatas kepentingan daerah atau golongan.

Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya yaitu setelah terjadinya Proklamasi Kemerdekaan republik Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Maka di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja.

Bila dilihat dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia merupakan salah satu dari banyak ragam bahasa melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu  (wilayah Kepulauan Riau) mulai dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20.

Menurut Gorys Keraf yang mengemukakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama.  Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.

Penamaan “Bahasa Indonesia” diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, pada tanggal 28 Oktober 1928, hal tersebut dilakukan untuk menghindari kesan “imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan.dalam hal ini juga, proses tersebut dapat menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun di  Semenanjung Malaya. Karena hingga pada saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan juga bahasa asing.

Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.

Menurut Tri Adi Sarwoko, mengemukakan bahwa bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh pewarta atau media massa untuk menyampaikan informasi. Bahasa dengan ciri-ciri khas yang memudahkan penyampaian berita dan komunikatif .

Selama ini masih banyak orang yang menganggap bahasa jurnalistik sebagai perusak terbesar bahasa Indonesia. Mereka menganggap bahwa bahasa jurnalistik sebagai bahasa lain yang tidak pantas dilirik.

Dan anggapan itu ada ternyata memang ada benarnya juga, karena kadang-kadang wartawan memang menggunakan bahasa atau kata-kata pasaran yang melenceng dari Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Tentunya bukan hal diatas saja, di sisi lain media massa juga yang acap kali “memasarkan” kata-kata yang agak kasar atau kurang berkenan diperdengarkan ataupun diperlihatkan kepada masyarakat yang melihat bahkan berinnteraksi dengan media massa secara langsung, sehingga masyarakat yang dahulu memang terbiasa dengan bahasa yang memang agak halus, lembut dan sopan (eufemisme), kini menjadi akrab dengan kata-kata kasar dan terlalu “blak-blakan”, misalnya saja seperti sikat, bakar, bunuh, darah, bantai, rusuh, rusak, provokatif, , penjara, pecat, jarah, serta obok-obok dan demo.

Selain itu, media massa juga kerap mengutip kata-kata yang salah, misalnya saja seperti halnya bentuk kembar sekedar-sekadar, cidera-cedera, film-filem, teve-tivi-TV. Dan bahkan ada saja media yang memang memakai risiko, ada yang resiko. Ada yang memakai sekedar, ada yang sekadar.

Ada pula media massa yang dengan tanpa dosa menuliskan kata ganti kita, padahal yang seharusnya adalah kata kami.

Sebagai bahasa pemersatu, bahasa Indonesia tentu saja sangat berperan aktif serta berperan besar dalam dunia jurnalistik. Dapat kita bayangkan apabila setiap media massa menggunakan bahasa daerah lengkap dengan dialeknya masing-masing. Tentu hal tersebut akan membuat sedikit terlitat atau terdengar lebih mudah dicerna oleh masyarakat.

Namun demikian, untuk memperkaya khasanah bahasa dan untuk tetap menghidupkan bahasa daerah, maka dengan ini banyak media massa yang memuat rubrik tertentu dengan menggunakan bahasa daerah, bahkan media massa televisi pun mulai membuat acara khusus dengan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantarnya.

Bahasa Indonesia juga berperan menjembatani ketidaktahuan atau kekurang-pahaman masyarakat Indonesia akan bahasa asing dalam media massa yang terdapat di Indonesia. Dapat kita bayangkan bahwa “Apa jadinya apabila semua isi dari  berita, film, ataupun siaran dari mancanegara disajikan atau ditayangkan begitu saja tanpa pengantar bahasa Indonesia oleh media massa kepada masyarakat Indonesia?” Tentu saja kita sebagai masyarakat Indonesia yang menyimaknya akan kebingungan karena keterbatasan pengetahuan bahasa dank arena tidak adanya pengantar bahasa Indonesia nya sendiri.

Sebagai tambahan, bahwa kiranya perlu di sampaikan dalam tulisan kali ini, bahwa bahasa jurnalistik adalah merupakan sebuah laras bahasa, yaitu bahasa yang digunakan oleh kelompok profesi atau kegiatan dalam bidang tertentu saja. Selain laras bahasa jurnalistik, juga ada laras bahasa sastra, ekonomi, dan keagamaan.

Sebagai sebuah laras bahasa yang tak dapat berdiri sendiri, bahasa jurnalistik harus bersandar pada ragam bahasa, yakni ragam bahasa baku, karena hanya bahasa bakulah yang pemakaiannya luas dan memiliki ciri kecendekiaan. Maka dari itulah sebabnya, bahasa jurnalistik tentunya wajib memelihara bahasa Indonesia.

Ragam bahasa baku ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern yang setara dengan bahasa lain di dunia, sedangkan laras bahasa jurnalistik memerlukan pengungkapan diri secara modern.

Saat ini tantangan terhadap bahasa Indonesia, baik internal maupun eksternal, merupakan hal yang tidak hanya mengancam eksistensi bahasa Indonesia. Bahkan menimbulkan konsekuensi ancaman tersebut tidak hanya sebatas mengancam eksistensi bahasa Indonesia, namun menjadi sangat penting karena berkaitan erat dengan bahasa sebagai identitas dan kepribadian dari bangsa. Apabila dihayati dari prosesnya, awalnya masyarakat merubah gaya bahasanya dan baru setelah itu akan mempengaruhi tingkah lakunya sehingga akan mengalami kegamangan norma dan juga kepribadian berkaitan dengan identitas sosial. Fenomena tingginya angka kriminalitas dan kenakalan remaja di masa kini, telah menjadi sebuah bukti dari kegamangan tersebut. Hal itu tidak terlepas dari pandangan manusia sebagai substansi dan manusia sebagai makhluk yang mempunyai identitas.

Kemudian kegamangan kepribadian tersebut membuat kesadaran bersatu meluntur. Tantangan disintegrasi bangsa semakin tinggi. Fenomena tawuran antar desa hingga antar suku merupakan salah satu jawaban yang dapat menyingkap kurang mengakarnya peran bahasa Indonesia sebagai penyatu bangsa. Dalam konteks kesadaran bersatu inilah seharusnya kita dapat belajar dari kepemimpinan dimasa Orde Baru dalam mengopinikan “persatuan” meskipun dengan cara yang represif dan harus di evaluasi.

Selama ini usaha untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sudah banyak dilakukan. Hal ini terlihat dari mulai membaiknya badan perencanaan bahasa yang ada di Indonesia. Bahkan badan tersebut bekerjasama dengan badan perencanaan di negara Malaysia dan Brunei, karena sama-sama berbahasa Melayu, yang sudah melakukan berbagai penelitian dan melakukan perencanaan internasional. Namun usaha tersebut masih dalam tataran struktural dan politis, belum merambah “akar rumput” yang merupakan basis kultural dan mengakar. Kesadaran dari pemerintah, media, dan masyarakat terhadap konsep bahasa persatuan terlihat masih sangat rendah sekali. Usaha para budayawan dan ahli bahasa Indonesia belum didukung penuh oleh kebijakan strategis dan merakyat dari pihak pemerintah sendiri. Ditambah lagi peran media yang semakin luas yang tidak diimbangi oleh usaha sosialisasi bahasa Indonesia yang baik dan benar membuat masyarakat kini lebih merespon stimulasi dari asing serta semakin jauh dari kaidah berbahasa yang benar. Bukan berarti masyarakat harus menutup diri dari pengaruh asing, namun akan tetapi kemampuan untuk menyaring informasi, gaya bahasa, dan perilaku inilah yang menjadi pokok masalah terjadinya kegamangan identitas.

Dinamika antara potensi dan tantangan atau realita yang dialami bahasa Indonesia saat ini merupakan suatu data yang dapat dijadikan sumber prediksi bagi eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di masa depan. Dalam konteks bahasa Melayu, Collins menyatakan bahwa peran bahasa Melayu akan semakin berkembang, baik di kawasan Asia Tenggara maupun di belahan bumi yang lain. Di luar Asia Tenggara bahasa Melayu dipelajari di delapan Negara Eropa dan dua Negara di Amerika. Jumlah penutur bahasa Melayu dalam waktu dekat ini akan terus meningkat. Hal ini akan meningkatkan prestise di kalangan para penuturnya yang kemudian akan mempengaruhi sikapnya untuk lebih positif terhadap bahasa Melayu. Terlebih menurut prediksi dari Collins, pengaruh bahasa Inggris belum begitu jelas di Asia Tenggara pada masa depan.

Pengaruh secara global bahasa Melayu tersebut tentunya akan juga berpengaruh di Indonesia meskipun akan membutuhkan proses yang sangat lama. Pengaruh tersebut berkaitan juga tingkat kesadaran pemerintah, media, dan masyarakat Indonesia tentang pentingnya bahasa Indonesia sebagai pemersatu. Kesadaran ini tidak hanya pada bagian luar pemahaman saja, namun selayaknya menjadi penghayatan dan pengidentifikasian seluruh masyarakat sebagai satu bangsa.

Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.  Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek.

Salah satu butir tujuan pembinaan bahasa Indonesia ialah membina sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Hal ini memberikan isyarat bahwa madsalah sikap merupakan faktor yang paling menentukan keberhasilab pembinaan tersebut. Dari sikap positif inilah akan tumbuh kecintaan dan kebanggan berbahasa Indonesia.
Sikap positif terhadap bahasa Indonesia akhit-akhir ini memang sudah menampak, walaupun belum seperti yang kita harapkan. Hal ini berarti bahwa pembinaan bhasa Indonesia yang telah dilaksanakan oleh pemerintah dalam berbagai bentuknya telah menmpakkan hasil yang cukup menggembirakan. Bahasa Indonesia telah memperlihatkan peranannya dalam kehidupan bangsa Indonesia, baik sebagai sarana komunikasi maupun sebagai pendukung ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan supaya bahasa Indonesia benar-benar menjadi kebanggan kita sebagai bangsa Indonesia.

Apabila kita berbicara tentang gengsi sosial dalam huungannya dengan bahasa Indonesia secar jujur masih memerlukan penanganan yang serius, baik yang menyangkut pembinaan maupun pengembangannya. Gengsi sosial bahasa Indonesia masih terlihat kalat bila dibandingkan dengan dengan gengsi sosial bahasa asing (terutama bahasa Inggris) memang kita akui, dan ahal ini merupakan tantangan. Namun dalam hal ini janganlah kita tinggal diam dan pesimis. Sebaliknya, kita harus nelakukan upaya-upaya positif yang dapat mengangkat gengsi sosial atau martabat bahasa Indonesia sehingga dapat sejajar dengan bahasa-asing yang sudah maju, mempunyai nama (prestise), dan berpengaruh besar di kalangan masyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan agar bahasa Indonesia mempunyai gengsi sosial yang tinggi di kalangan masyarakat Indonesia adalah memberikan penghargaan yang proporsional kepada anggota masyarakat yang mampu berbahasa Indonesia (baik lisan maupun tulis) dengan baik dan benar, sebagai bagian dari porestasi yang bersangkutan. Misalnya, sedbagai persyaratan pengangkatan pegawai negeri atau karyawan, sebagai perssuaratan promosi jabatan, pemberian royalti yang layak kepada penulis/pengarang di bidang masing-masing dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Referensi :

1. http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia

2. http://hilaliyah.wordpress.com/2011/09/24/peranan-bahasa-indonesia/

Leave a comment »