Oreology

Softskill

Pentingnya Manajemen Kontrol Keamanan Pada Sistem

Dalam system sangat penting adanya manajemen control karena dengan adanya pengontrolan sistem merupakan pemastian bahwa sistem telah dijalankan seperti yang direncanakan dan tetap dalam keadaan aman dari penyalahgunaan manusia atau gangguan yang terjadi. Sebuah pengendalian dikatakan berhasil ketika kesalahan-kesalahan dapat diminimalisir. Pengendalian dalam sebuah sistem pada dasarnya berarti menjaga agar sistem beroperasi dalam batas prestasi tertentu. Sebuah sistem yang berada dalam kendali akan beroperasi dalam batas toleransi yang telah ditentukan.
 
Keluaran dari sebuah sistem kadang-kadang tidak sesuai dengan keluaran yang semestinya (standar), hal ini membutuhkan pengendalian melalui sistem umpan balik untuk mencari gangguan-gangguan yang menghambat. Agar sistem umpan balik itu dapat berjalan baik maka sistem harus memiliki standar keterukuran keluaran, sensor yang dapat menangkap kondisi setiap keluaran, alat yang dapat membandingkan keluaran yang terjadi dengan keluaran standar, serta alat yang bergerak mengoreksi masukan. Jadi Tujuan manajemen kontrol system adalah untuk melindungi kerahasiaan, integritas dan ketersediaan informasi yang  ada.
 
Keamanan informasi terdiri dari perlindungan terhadap aspek-aspek berikut:
1.      Confidentiality (kerahasiaan) aspek yang menjamin kerahasiaan data atau informasi, memastikan bahwa informasi hanya dapat diakses oleh orang yang berwenang dan menjamin kerahasiaan data yang dikirim, diterima dan disimpan.
2.      Integrity (integritas) aspek yang menjamin bahwa data tidak dirubah tanpa ada ijin fihak yang berwenang (authorized), menjaga keakuratan dan keutuhan informasi serta metode prosesnya untuk menjamin aspek integrity ini.
3.      Availability (ketersediaan) aspek yang menjamin bahwa data akan tersedia saat dibutuhkan, memastikan user yang berhak dapat menggunakan informasi dan perangkat terkait (aset yang berhubungan bilamana diperlukan).
 
Keamanan informasi diperoleh dengan mengimplementasi seperangkat alat kontrol yang layak, yang dapat berupa kebijakan-kebijakan, praktek-praktek, prosedur-prosedur, struktur-struktur organisasi dan piranti lunak.
Informasi yang merupakan aset harus dilindungi keamanannya. Keamanan, secara umum diartikan sebagai “quality or state of being secure-to be free from danger”. Untuk menjadi aman adalah dengan cara dilindungi dari musuh dan bahaya. Keamanan bisa dicapai dengan beberapa strategi yang biasa dilakukan secara simultan atau digunakan dalam kombinasi satu dengan yang lainnya. Strategi keamanan informasi memiliki fokus dan dibangun pada masing-masing ke-khusus-annya. Contoh dari tinjauan keamanan informasi adalah:
·         Physical Security yang memfokuskan strategi untuk mengamankan pekerja atau anggota organisasi, aset fisik, dan tempat kerja dari berbagai ancaman meliputi bahaya kebakaran, akses tanpa otorisasi, dan bencana alam.
·         Personal Security yang overlap dengan ‘phisycal security’ dalam melindungi orang-orang dalam organisasi.
·         Operation Security yang memfokuskan strategi untuk mengamankan kemampuan organisasi atau perusahaan untuk bekerja tanpa gangguan.
·         Communications Security yang bertujuan mengamankan media komunikasi, teknologi komunikasi dan isinya, serta kemampuan untuk memanfaatkan alat ini untuk mencapai tujuan organisasi.
·         Network Security yang memfokuskan pada pengamanan peralatan jaringan data organisasi, jaringannya dan isinya, serta kemampuan untuk menggunakan jaringan tersebut dalam memenuhi fungsi komunikasi data organisasi.
 
Sebuah system harus mempunyai tiga property (sifat), yaitu :
·         Integritas, system akan mempunyai integritas bila ia berjalan menurut spesifikasinya. Perancang system berusaha untuk mengembangkan system yang mempunyai integritas fungsional, yaitu kemampuan untuk melanjutkan operasi, apabila salah satu atau lebih dari komponennya tidak berjalan.
·         Audibilitas, ia akan bersifat audible jika ia memiliki visibilitas dan accountability (daya perhitungan). Bila system memiliki audibilitas maka mudah bagi seseorang untuk memeriksa, memverifikasi atau menunjukkan penampilannya.
·         Daya kontrol, daya kontrol memungkinan manajer untuk menangani pengerahan atau penghambatan pengaruh terhadap system. Teknik yang efektif untuk mendapatkan daya kontrol system ini adalah dengan membagi system menjadi subsistem yang menangani transaksi secara terpisah.
Advertisements
Leave a comment »

Tugas 2 (Pengantar Telematika)

  1. Perkembangan jaringan computer sebagai sarana yang digunakan dalam proses telematika baik yang menggunakan kabel maupun yang tidak menggunakan kabel.

Perkembangan teknologi komunikasi data  dewasa ini sudah tidak terbatas lagi hanya pada komputer. Berbagai perangkat teknologi komunikasi yang dapat membantu dalam proses telematika saat ini berkembang mengikuti perkembangan teknologi komputer, banyak diantaranya mengintegrasikan atau menghubungkan suatu perangkat komputer, antara lain seperti mikroprosesormemoridisplaystorage, dan teknologi komunikasi ke dalamnya.

Ditahun 1950-an ketika jenis komputer mulai membesar sampai terciptanya super komputer, maka sebuah komputer mesti melayani beberapa terminal (lihat Gambar 1) Untuk itu ditemukan konsep distribusi proses berdasarkan waktu yang dikenal dengan nama TSS (Time Sharing System), maka untuk pertama kali bentuk jaringan (network) komputer diaplikasikan. Pada sistem TSS beberapa terminal terhubung secara seri ke sebuah host komputer. Dalam proses TSS mulai nampak perpaduan teknologi komputer dan teknologi telekomunikasi yang pada awalnya berkembang sendiri-sendiri

Memasuki tahun 1970-an, setelah beban pekerjaan bertambah banyak dan harga perangkat komputer besar mulai terasa sangat mahal, maka mulailah digunakan konsep proses distribusi (Distributed Processing). Seperti pada Gambar 2, dalam proses ini beberapa host komputer mengerjakan sebuah pekerjaan besar secara paralel untuk melayani beberapa terminal yang tersambung secara seri disetiap host komputer. Dalam proses distribusi sudah mutlak diperlukan perpaduan yang mendalam antara teknologi komputer dan telekomunikasi, karena selain proses yang harus didistribusikan, semua host komputer wajib melayani terminal-terminalnya dalam satu perintah dari komputer pusat.

Selanjutnya ketika harga-harga komputer sudah mulai turun dan konsep proses distribusi sudah matang, maka penggunaan komputer dan jaringannya sudah mulai beragam dari mulai menangani proses bersama maupun komunikasi antar komputer (Peer to Peer System) saja tanpa melalui komputer pusat. Untuk itu mulailah berkembang teknologi jaringan lokal yang dikenaldengan sebutan LAN. Demikian pula ketika Internet mulai diperkenalkan, maka sebagian besar LAN yang berdiri sendiri mulai berhubungan dan terbentuklah jaringan raksasa WAN.

Jaringan komputer adalah sebuah sistem yang terdiri atas komputer dan perangkat jaringan lainnya yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang sama.

Tujuan dari jaringan komputer adalah

1)    Membagi  sumber daya:   contohnya berbagi  pemakaian printer,  CPU,memori,harddisk

2)    Komunikasi: contohnya surat elektronik, instant messaging, chatting .    Akses informasi: contohnya web browsing

Agar dapat mencapai tujuan yang sama, setiap bagian dari jaringan komputer meminta dan memberikan layanan (service). Pihak yang meminta layanan disebut klien (client) dan yang memberikan layanan disebut pelayan (server).

  1. Keuntungan dan Kerugian :

1)      Peer To Peer adalah Jaringan yg memperbolehkan pemakai membagi resources dan data pada komputer mereka serta mengakses shared resources yang ada pada computer lain.

peer_to_peer1

Keuntungan Peer To Peer :

–     Komputer dalam jaringan dapat saling dapat saling berbagi fasilitas yang di milikinya seperti hardisk ,modem dan printer.

–     Biaya operasional relatif murah di bandingkan dengan tipe jaringan client server.

–     Kelangsungan kerja jaringan tidak tergantung pada satu server. Sehingga bila salah satu komputer/peer mati atau rusak , jaringan secara keseluruhan tidak akan mengalami gangguan.

–     Tidak membutuhkan admin yang handal.

Kerugian Peer To Peer:

–     Troubleshooting jaringan relatif lebih sulit karena pada jaringan tipe peer to peer setiap komputer dimungkinkan untuk terlibat dalam komunikasi yang ada. Di jaringan client server, komunikasi adalah antara server dengan workstasion.

–     Untuk kerja lebih rendah di bandingkan dengan jaringan client server

–     Sistem keamanan jaringan ditentukan oleh masing-masing user dengan mengatur masing-masing fasilitas yang dimiliki

–     Karena data jaringan tersebar di masing-masing computer dalam jaringan, maka backup harus dilakukan oleh masing-masing komputer tersebut.

2)   Client Server dapat diartikan sebagai kemampuan komputer untuk meminta layanan request data kepada komputer lain. Setiap instance dari komputer yang meminta layanan disebut sebagai client. Data yang diminta oleh client dapat diambil dari database pada sisi server yang sering disebut database server, seperi misalnya MySQL, PostgreSQL, Oracle, atau SQL Server.

Keuntungan Client-Server :

1.  Client-server mampu menciptakan aturan dan kewajiban komputasi secara terdistribusi.

2.  Mudah dalam maintenance. Memungkinkan untuk mengganti, memperbaiki server tanpa mengganggu client.

3.  Tempat penyimpanan terpusat, update data mudah. Pada peer-to-peer, update data sulit.

4.  Mendukung banyak clients berbeda dan kemampuan yang berbeda pula

Kerugian Client-Server:

1.    Traffic congestion on the network, jika banyak client mengakses ke server secara simultan, maka server akan overload.

2.    Berbeda dengan P2P network, dimana bandwidthnya meningkat jika banyak client merequest. Karena bandwidth berasal dari semua komputer yang terkoneksi kepadanya.

3.    Biaya operasional mahal

4.    Membutuhkan tenaga kerja yang profesional dan ahli

3. Perkembangan teknologi wireless yang meliputi hardware, sistem operasi, dan program aplikasi yang digunakan pada perangkat wireless

Wi Max Standar BWA yang saat ini umum diterima dan secara luas digunakan adalah standar yang dikeluarkan oleh Institute of Electrical and Electronics Engineering (IEEE), seperti standar 802.15 untuk Personal Area Network (PAN), 802.11 untuk jaringan Wireless Fidelity (WiFi), dan 802.16 untuk jaringan Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX).

Pada jaringan selular juga telah dikembangkan teknologi yang dapat mengalirkan data yang overlay dengan jaringan suara seperti GPRS, EDGE, WCDMA, dan HSDPA. Masing-masing evolusi pada umumnya mengarah pada kemampuan menyediakan berbagai layanan baru atau mengarah pada layanan yang mampu menyalurkan voice, video dan data secara bersamaan (triple play). Sehingga strategi pengembangan layanan broadband wireless dibedakan menjadi Mobile Network Operator (MNO) dan Broadband Provider (BP).

WIMAX

WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) adalah sebuah tanda sertifikasi untuk produk-produk yang lulus tes cocok dan sesuai dengan standar IEEE 802.16. WiMAX merupakan teknologi nirkabel yang menyediakan hubungan jalur lebar dalam jarak jauh. WiMAX merupakan teknologi broadband yang memiliki kecepatan akses yang tinggi dan jangkauan yang luas. WiMAX merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih menarik. Disamping kecepatan data yang tinggi mampu diberikan, WiMAX juga membawa isu open standar. Dalam arti komunikasi perangkat WiMAX diantara beberapa vendor yang berbeda tetap dapat dilakukan (tidak proprietary). Dengan kecepatan data yang besar (sampai 70 MBps), WiMAX layak diaplikasikan untuk ‘last mile’ broadband connections, backhaul, dan high speed enterprise.

Yang membedakan WiMAX dengan Wi-Fi adalah standar teknis yang bergabung di dalamnya. Jika WiFi menggabungkan standar IEEE 802.11 dengan ETSI (European Telecommunications Standards Intitute) HiperLAN sebagai standar teknis yang cocok untuk keperluan WLAN, sedangkan WiMAX merupakan penggabungan antara standar IEEE 802.16 dengan standar ETSI HiperMAN. Standar keluaran IEEE banyak digunakan secara luas di daerah asalnya, Amerika, sedangkan standar keluaran ETSI meluas penggunaannya di daerah Eropa dan sekitarnya. Untuk membuat teknologi ini dapat digunakan secara global, maka diciptakanlah WiMAX. Kedua standar yang disatukan ini merupakan standar teknis yang memiliki spesifikasi yang sangat cocok untuk menyediakan koneksi berjenis broadband lewat media wireless atau dikenal dengan BWA.

Referensi :

http://yunyunsundawan.blogspot.com/2012/11/tugas-2-pengantar-telematika.html

http://deqwan1.blogspot.com/2013/04/pengertian-jaringan-peer-to-peer.html

Leave a comment »

Tugas 1 (Pengantar Telematika)

1. Menurut pendapat saya perkembangan teknologi informasi dalam penyebarluasan informasi sangat berperan penting dan berpengaruh besar. Dalam hal ini, teknologi informasi menjadi sarana untuk memudahkan informasi disebar kepada khalayak umum. Di jaman yang serba canggih ini, telepon genggam merupakan salah satu teknologi yang sangat popular dan digunakan oleh hampir semua orang yang ada di dunia. Melalui telepon genggam juga memudahkan orang banyak untuk mendapatkan informasi terkini. Maka dari itu, perkembangan teknologi informasi sangatlah berperan penting.

2. Telematika adalah kepanjangan dari Telekomunikasi dan Informatika. Telematika berasal dari bahasa Prancis yaitu “TELEMATIQUE” yang  diartikan sebagai bertemunya sistem jaringan komunikasi dengan teknologi informasi

Telematika memiliki beberapa peranan dalam bidang pendidikan, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Ensiklopedia

Sebagian perusahan yang menjajakan ensiklopedia saat ini telah mulai bereksperimen menggunakan CD ROM untuk menampung ensiklopedia sehingga diharapkan ensiklopedia di masa mendatang tidak hanya berisi tulisan dan gambar saja, tapi juga video, audio, tulisan dan gambar, dan bahkan gerakan. Dan data informasi yang terkandung dalam ensklopedia juga telah mulai tersedia di internet. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka data dan informasi yang terkandung dalam ensiklopedi elektronik dapat diperbaharui.

2. Video Teleconference

Keberadaan teknologi ini memungkinkan siswa atau mahasiswa dari seluruh dunia untuk dapat berkenalan, saling mengenal bangsa di dunia. Teknologi ini dapat digunakan sebagai sarana diskusi, simulasi dan dapat digunakan untuk bermain peran pada kegiatan pembelajaran yang berfungsi menumbuhkan kepercayaan diri dan kerjasama yang bersifat sosial

2. Pelatihan Jarak Jauh dalam jaringan Cyber System

Pendidikan dan pelatihan jarak jauh diperlukan untuk memudahkan akses serta pertukaran data, pengalaman dan sumber daya dalam rangka peningkatan mutu dan keterampilan professional dari SDM di Indonesia. Pada gilirannya jaringan ini diharapkan dapat menjangkau serta dapat memobilisasikan potensi masyarakat yang lain, termasuk dalam usaha, dalam rangka pembangunan serta kelangsungan kehidupan ekonomi di Indonesia, baik yang bersifat pendidikan formal maupun nonformal dalam suatu “cyber system”.

3. Perpustakaan Elektronik (e-library)

Perpustakaan yang biasanya arsip-arsip buku dengan di Bantu dengan teknologi informasi dan internet dapat dengan mudah mengubah konsep perpustakaan yang pasif menjadi agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Homepage dari The Library of Congress merupakan salah satu perpustakaan yang terbesar di dunia. Saat ini sebagian informasi yang ada di perpustakaan itu dapat di akses melalui internet.

4. Surat Elektronik (e-mail)

Dengan aplikasi sederhana seperti e-mail maka seorang dosen, pengelola, orang tua dan mahasiswa dapat dengan mudah berhubungan. Dalam kegiatan di luar kampus mahasiswa yang menghadapi kesulitan dapat bertanya lewat e-mail.

5. Sistem Distribusi Bahan Secara Elektronis ( digital )
Dengan adanya sistem ini maka keterlambatan serta kekurangan bahan belajar bagi warga belajar yang tinggal di daerah terpencil dapat teratasi. Bagi para guru SD yang mengikuti penyetaraan D2, sarana untuk mengakses program ini tdk menjadi masalah karena mereka dapat menggunakan fasilitas yang dimiliki kantor pos yang menyediakan jasa internet.

7. Dokumen Elektronik (e-document)
Ilmu pengetahuan tersimpan dalam berbagai bentuk dokumen yang sebagian besar tercetak dalam bentuk buku, makalah atau laporan informasi semacam ini kecuali sukar untuk diakses, juga memerlukan tempat penyimpanan yang luas. Beberapa informasi telah disimpan dalam mudah dikomunikasikan. Mirip halnya dengan perpustakaan elektronik, informasi ini sifatnya lebih dinamik (karena memuat hal-hal yang mutakhir) dapat dikelola dalam suatu sistem.

3. Disisi lain, telematika memiliki manfaat dan dampak negatif

Manfaat dari telematika antara lain :

a. Memudahkan seseorang dalam memperoleh data maupun informasi dimana saja, dan kapan saja sesuai dengan kebutuhan
b. Meningkatkan kinerja pelaku usaha karena kemudahan pengaksesan informasi dan penyelenggaraan transaksi sehingga dapat meningkatkan keuntungan secara ekonomi
c. Mencerdaskan masyarakat karena masyarakat dapat dengan mudah menambah pengetahuan/informasi yang dimiliki
d. Memotong alur proses yang panjang dalam penyelenggaraan birokrasi pemerintah
e. Mempererat hubungan antar personal, antar wilayah dan antar Negara tanpa ada batasan ruang dan waktu
f. Meningkatkan dan memacu roda perekonomian nasional

Dampak negatif dari telematika antara lain :

a. Meningkatnya tingkat kejahatan menggunakan media internet seperti pencurian data kartu kredit dari nasabah suatu bank, sehingga si pelaku carding (carder) dapat menggunakan data tersebut untuk keuntungan pribadi.
b. Informasi dan data yang mudah diperoleh tidak hanya informasi yang bersifat positif tapi juga negative. Kurangnya keamanan pengaksesan informasi negative dapat meningkatkan kejahatan dalam masyarakat, seperti peredaran video porno di internet meningkatkan pemerkosaan dan pelecehan seksual.
c. Kurangnya privasi pengguna, karena kurangnya keamanan jaringan sehingga dapat dengan mudah disusupi oleh hacker/cracker ataupun virus.
d. Meningginya individualisme masyarakat, karena tidak ada batas ruang dan waktu menyelusur dunia maya sehingga terkadang menjadi lupa diri, dan tidak mengenal sekitar.

4. Cara mengatasi dampak negatif dari perkembangan telematika antara lain :

  • Peran yang terpenting dalam hal mengatasi dampak negatif nya adalah orangtua. Orangtua memang seharusnya mengenalkan internet pada anak, bukan orang lain. Mengenalkan internet berarti pula mengenalkan manfaatnya dan tujuan penggunaan internet. Karena itu, orangtua terlebih dahulu harus ‘melek’ media dan tidak gaptek dengan kata lain, orangtua harus lebih pintar dari anaknya. Namun hal ini sangat disayangkan karena seringkali anaknya sudah terlalu canggih, sementara orangtuanya tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bagaimana membuka internet, juga tidak tahu apa-apa soal permainan online yang suka dimainkan anak.
  • Pergunakan software atau perangkat lunak yang dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak. Misalnya saja program nany chip atau parents lock yang dapat memproteksi anak dengan mengunci segala akses yang berbau seks dan kekerasan.
  • Letakkan komputer di ruang publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar anak. Meletakkan komputer di dalam kamar anak, akan mempersulit orangtua dalam hal pengawasan. Anak bisa leluasa mengakses situs porno atau menggunakan games yang berbau kekerasaan dan sadistis di dalam kamar terkunci. Bila komputer berada di ruang keluarga, keleluasaannya untuk melanggar aturan pun akan terbatas karena ada anggota keluarga yang lalu lalang.

 

 

Referensi :

1. http://lavians.blogspot.com/2012/11/peranan-telematika-dalam-bidang.html

2. http://nindityakharisma.blogspot.com/2009/09/telematika-adalah.html

Leave a comment »

Resensi Artikel

  1. Data publikasi
    1. Judul : Berkaca Pada Kasus Leysus
    2. Penulis : Drg. Ahmad Syaify, SpPerio, DOsen FKG UGM dan mahasiswa S3 Pascasarjana UGM
    3. Penerbit : http://kempoantolin.wordpress.com/artikel-kesehatan-gigi-berkaca-pada-kasus-leysus/
    4. Tema : Kesehatan Gigi

 

  1. Sinopsis atau ringkasan :

Dalam kasus kematian yang terjadi pada Leysus, bisa dirunut dari teori focal infeksi di rongga mulut bertanggung jawab atas inisiasi dan progresi berbagai penyakit inflamasi seperti radang sendi, tukak lambung, dan radang usus buntu.

Kemajuan dalam klasifikasi dan identifikasi kuman bakteri rongga mulut dan bidang imunologi, semakin meyakinkan adanya peran penting infeksi gigi terhadap berbagai penyakit sistemik seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru, penyakit gula, stroke, kanker, dan sebagainya. Juga menjadi semakin jelas bahwa gigi dan rongga mulut dapat menjadi tempat asal bagi desiminasi mikroorganisme penyebab penyakit ke bagian tubuh lain.

Sejumlah studi epidemiologi mengusulkan bahwa infeksi rongga mulut, khususnya radang gusi (gingivitis) dan jaringan pendukung gigi (periodontitis) merupakan suatu faktor resiko bagi penyakit sistemik.

Jumlah bakteri di rongga mulut bisa mencapai ratusan juta. Xiajing Li dkk (2000) mencatat lebih dari 1011 bakteri dalam setiap milligram plak gigi. Plak adalah semacam lender yang senantiasa menempel pada permukaan gigi.

Memang tidak semua bakteri rongga mulut membahayakan. Sebagian besar justru dibutuhkan sebagai flora normal mulut. Bakteri yang potensial menimbulkan penyakit gig dan banyak pula dijumpai pada penyakit sistemik yaitu golongan bakteri anaerob gram negatif. Antara lain, P. Gingivalis, B. Intermedius, dan A. Actinomycetemcommitans. Bakteri-bakteri tersebut dominan pada radang gusi dan radang sekitar ujung akar gigi, sampai jadi bengkak bernanah abses, seperti yang dialami oleh almarhum Leysus.

 

  1. Keunggulan :

Pembaca dapat mengetahui kesehatan seputar gigi dan bagaimana cara yang baik dan tepat untuk merawat gigi agar terhindar dari sakit.

 

  1. Kekurangan :

Pembahasannya kurang mendalam.

 

  1. Pendapat akhir atau saran :

Dari isi yang telah dibahas dalam topik ini, sebaiknya kita mengambil hikmah dari kasus yang dialami oleh almarhum Leysus. Rajinlah menjaga kesehatan tubuh, terutama kesehatan gigi. Agar kita tidak menderita sakit gigi dan berdampak ke kesehatan tubuh yang lainnya.

Leave a comment »

Analisis Artikel

Bahasa Indonesia (Softskill)

“Menjaga Kesehatan Gigi. Berkaca Pada Kasus Leysus”

logo_gunadarma-300x298

Disusun oleh :

Nama : Rosdiana

NPM    : 16110248

                                                                                                                           Kelas    : 3KA10

FAKULTAS ILMU KOMPUTER & TEKNOLOGI INFORMASI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia dengan judul “Menjaga Kesehatan Gigi. Berkaca Pada Kasus Leysus” tepat pada waktunya. Tugas ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan nilai mata kuliah Bahasa Indonesia (Softskill).

Selama proses penyusunan tugas ini, penulis mendapat bantuan dan dukungan, baik berupa moril maupun materil dari berbagai pihak, segingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada:

  1. Bapak Jono Suroyo  selaku Dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan pengarahan dalam proses penyusunan karya tulis ini.
  2. Teman-teman 3KA10 yang telah memberikan motivasi dan dukungan.
  3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang telah menbantu baik langsung maupun tidak langsung kepada penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini.

Penulis menyadari, masih banyak kekurangan dalam penyusunan tugas ini baik secara tulisan maupun pembahasan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima segala masukan yang membangun dari berbagai pihak, baik itu pihak kritik maupun saran yang dapat membuat tugas tulisan ini menjadi lebih baik.

Akhirnya penulis berharap semoha tugasini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya.

Depok, April 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………… i
Daftar Isi…….……………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ………..…….………………………………….. 1
1.2. Rumusan Masalah..……………………………….…………….. 1
1.3. Tujuan Penulisan ………….……………………………….…… 2

BAB II Menjaga Kesehatan Gigi. Berkaca Pada Kasus Leysus.

2.1. Teori Focal Infeksi ……………………………………………… 2

2.2. Penyebaran Lewat Darah ………………………………………. 2
BAB III PENUTUP
3.1. Simpulan ……………………….………………………………. 4

3.2. Saran ………………………………………….………………..  4

DAFTAR PUSTAKA ……………………….…..…………..……… 5

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1.Latar Belakang

Pelawak kondang Leysus yang memiliki nama asli Winarso, meninggal dunia pada awal Januari lalu di usia yang relatif muda, yaitu 43 tahun. Kematiannya bukan saja meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan dunia lawak Indonesia, tetapi juga menyisakan tanda Tanya mengenai penyebab kematiannya.

Mula-mula ia dikabarkan sakit gigi biasa. Namun setelah giginya ditambal, malah bengkak. Kemudia dibawa lagi ke dokter gigi dan disarankan untuk minum obat. Rasa sakit agak mereda sebentar, tetapi bengkaknya semakin besar. Karena sudah terlalu sakit dirasa, pihak keluarga tidak terlalu cemas dengan sakit gigi Leysus. Sampai kemudian muncul gejala aneh. Tiba-tiba Leysus merasakan lunglai pada sebelah kaki dan tangannya. Bicaranya pun menjadi cedal, seperti terkena gejala penyakit stroke.

Kepada beberapa media infotainment dan media cetak, keluarga Leysus menuturkan bahwa semua itu berawal dari sakit gigi. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan seorang dokter yang merawat Leysus, bahwa pelawak asal Malang ini mengidap kanker otak yang sudah menyebar (metastase), yang dipicu oleh giginya yang terinfeksi.

Kasus kematian Leysus yang berawal dari tambalan gigi, menimbulkan kekhawatiran pada sebagian masyarakat. Benarkan bahwa infeksi gigi bisa menyebar ke organ-organ vital tubuh?

1.2.Rumusan Masalah

Pada artikel ini penuli hanya membahas klasifikasi dan identifikasi kuman bakteri dalam rongga mulut yang dihubungkan dengan menggunakan teori focal infeksi.

1.3.Tujuan Penulisan

Memberikan informasi dan pengetahuan tentang klasifikasi dan identifikasi kuman bakteri dalam rongga mulut yang diharapkan dapat memberikan motivasi agar masyarakat rajin membersihkan mulut dengan cara menyikat gigi setiap hari.

BAB II

Menjaga Kesehatan Gigi. Berkaca Pada Kasus Leysus.

 

 

2.2. Teori Focal Infeksi

Dalam kasus kematian yang terjadi pada Leysus, bisa dirunut dari teori focal infeksi di rongga mulut bertanggung jawab atas inisiasi dan progresi berbagai penyakit inflamasi seperti radang sendi, tukak lambung, dan radang usus buntu.

Kemajuan dalam klasifikasi dan identifikasi kuman bakteri rongga mulut dan bidang imunologi, semakin meyakinkan adanya peran penting infeksi gigi terhadap berbagai penyakit sistemik seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru, penyakit gula, stroke, kanker, dan sebagainya. Juga menjadi semakin jelas bahwa gigi dan rongga mulut dapat menjadi tempat asal bagi desiminasi mikroorganisme penyebab penyakit ke bagian tubuh lain.

Sejumlah studi epidemiologi mengusulkan bahwa infeksi rongga mulut, khususnya radang gusi (gingivitis) dan jaringan pendukung gigi (periodontitis) merupakan suatu faktor resiko bagi penyakit sistemik.

Jumlah bakteri di rongga mulut bisa mencapai ratusan juta. Xiajing Li dkk (2000) mencatat lebih dari 1011 bakteri dalam setiap milligram plak gigi. Plak adalah semacam lender yang senantiasa menempel pada permukaan gigi.

Memang tidak semua bakteri rongga mulut membahayakan. Sebagian besar justru dibutuhkan sebagai flora normal mulut. Bakteri yang potensial menimbulkan penyakit gig dan banyak pula dijumpai pada penyakit sistemik yaitu golongan bakteri anaerob gram negatif. Antara lain, P. Gingivalis, B. Intermedius, dan A. Actinomycetemcommitans. Bakteri-bakteri tersebut dominan pada radang gusi dan radang sekitar ujung akar gigi, sampai jadi bengkak bernanah abses, seperti yang dialami oleh almarhum Leysus.

 

2.2. Penyebaran Lewat Darah

Bakteri rongga mulut dapat menyebar melalui aliran darah yang disebut bakteriemia. Yang menyebar melalui bakteri itu sendiri maupun racun yang dihasilkannya yaitu endotoxin atau exotoxin.

Beberapa penelitian mengenai bakteriemia ini layak disimak. Bakteriemia diamati pada 100% pasien setelah cabut gigi, 70% setelah pembersihan karang gigi, pada 55% setelah pembedahan gigi geraham bungsu, 20% setelah perawatan akar gigi, dan 55% setelah operasi amandel.

Penelitian lain menunjukkan penyebaran bakteri setelah perawatan akar gigi. Dan kurang dari 1 menit setelah prosedur rongga mulut, kuman dari gigi yang terinfeksi telah mencapai jantung, paru-paru, dan sistem kapiler darah tepi.

Pada kondisi kesehatan mulut normal, hanya sejumlah kecil bakteri fakultatif dan tidak membahayakan masuk kedalam aliran darah. Namun, pada kondisi kebersihan mulut yang jelek, jumlah bakteri pada permukaan gigi meningkat menjadi 2-10 kali lipat. Sehingga peluang terjadinya bakteriemia, adanya rangkaian reaksi imunologis yang dipicu oleh infeksi di rongga mulut, merupakan penjelasan lain mengapa masalah gigi dapat merambat ke penyakit yang serius sampai berujung kematian seperti almarhum Leysus.

Gigi dan gusi sebetulnya tidak melekat erat, melainkan ada celah sekitar 2mm disebut kantung gusi (sulcus gingiva). Daerah inilah yang paling rentan terjadi infeksi bakteri dan peradangan, sehingga timbul penyakit periodontal. Tanda-tandanya yaitu gusi memerah, bengkak, mudah berdarah, bisa disertai kegoyahan gigi.

Grossi dan genco (1998) mengemukakan bahwa 17 macam penyakit sitemik yang berhubungan langsung dengan penyakit periodontal, termasuk penyakit gula, jantung, kanker, dan stroke. Beberapa penelitian retrospektif membuktikan, bahwa pasien penyakit jantung, stroke, DM, pada umumnya kebersihan mulutnya lebih jelek dibandingkan dengan pasien yang normal.

BAB III

PENUTUP

 

3.1. Simpulan

                  Dari uraian yang telah dijelaskan pada BAB II, dapat disimpulkan bahwa gigi dan mulut bisa menjadi pemicu dan dapat memperparah kondisi hingga mengarah kepada penyakit sistemik yang berbahaya.

3.2. Saran

Dalam artikel ini, informasi yang diberikan sudah cukup jelas dan menjawab dari kasus yang dialami oleh almarhum Leysus. Kita sebagai manusia yang ingin sehat terhindar dari penyakit, khususnya kesehatan daerah mulut dan gigi. Perlu dijaga dengan cara membersihkannya setiap hari secara rutin.

Sedangkan saran yang diberikan pihak lain yaitu, rajinlah pergi ke dokter gigi, untuk berkonsultasi.

DAFTAR PUSTAKA

 

[1] http://kempoantolin.wordpress.com/artikel-kesehatan-gigi-berkaca-pada-kasus-leysus/, waktu akses: 17 April 2013 pukul 09.23

 

Leave a comment »

Menganalisa Tulisan Berdasarkan Diksi

Menanam Pohon Investasi Tiket Masuk Surga

Oleh Alamendah

Menanam pohon sebagai investasi tiket masuk surga bukan kalimat yang berlebihan. Dengan menanam pohon tanpa kita sadari kita pun telah menanam investasi jangka panjang untuk memperoleh tiket masuk surga. Bahkan ketika kita telah meninggal pun pahala dari menanam pohon ini (insa Allah) akan terus mengalir.

Sebatang pohon yang ditanam dan dirawat hingga tumbuh akan memberikan manfaat yang besar. Bukan hanya untuk orang yang menanam pohon saja namun juga kepada orang-orang di sekitar pohon. Bahkan kepada berbagai makhluk dan organisme lainnya.

Sebagian kecil manfaat dari sebatang pohon di antaranya adalah:

  • Pohon menghasilkan oksigen. Rata-rata sebatang pohon mampu menghasilkan oksigen hingga 1,2 kg perhari. Bahkan sebatang pohon trembesi mampu menghasilkan 78 kg O2 perharinya (28,48 ton/tahun). Padahal seorang manusia rata-rata menghirup 0,5 kg O2 perharinya. Berapa banyak manusia dan hewan yang terbantu dari sebatang pohon?.
  • Akar pohon menyerap air hujan ke tanah, mencegah air meluap menjadi banjir saat musim penghujan dan mengikat air sehingga menjadi cadangan air tanah yang dapat digunakan hingga musim kemarau. Setiap orang membutuhkan air untuk minum dan aneka kebutuhan lainnya termasuk untuk bersuci (wudlu).
  • Pohon menghasilkan buah, daun, batang, kayu, akar, dan biji yang dapat dimakan dan

dimanfaatkan.

  • Pohon pun menjadi tempat tinggal dan mencari makan berbagai organisme mulai

dari burungkupu-kupuulat bulu, bahkan organisme-organisme yang tidak kasat mata.

Dari sedikit manfaat itu saja bisa kita bayangkan berapa banyak orang perharinya yang mendapatkan manfaat dari sebatang pohon yang telah kita tanam. Seandainya dibuat hitungan kasar; Dalam sehari pohon tersebut dimanfaatkan oleh 2 orang untuk bernafas, 1 orang untuk minum, dan 1 orang untuk wudlu bukankah kita telah bersedekah kepada 4 orang. Padahal pohon mampu hidup puluhan hingga ratusan tahun. Semakin banyak yang memperoleh manfaat bukankah pahala yang kita terima akan semakin besar dan tiket masuk surga.

Menanam Pohon Sebagai Shodaqoh Jariyah. Menanam pohon dapat dianggap sebagai sedekah (shodaqoh) jariyah layaknya menyumbang pembangunan masjid, maupun mewakafkan tanah. Apalagi jika penanaman pohon itu memang dimaksudkan untuk kepentingan umum seperti menanam pohon di tepi jalan atau hutan (Perlu diingat hari lingkungan hidup 2011 ini mengambil tema “Hutan Penyangga Kehidupan”).

Shodaqoh jariyah mempunyai arti memberikan harta benda miliknya di jalan Allah yang mempunyai manfaat hingga jangka panjang. Apa harta benda yang kita berikan saat menanam pohon? Benih, tenaga, dan biaya menanam dan merawat pohon itu. Di jalan Allah?. Pohon menguragi pencemaran udara sehingga udara yang dihirup membuat orang mampu mencari nafkah. Air menjadikan orang dapat bersuci hingga bisa melaksanakan ibadah.

Padahal saya pernah mendengar sebuah hadits sahih yang berbunyi “ketika seorang anak adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yang pahala dari amal itu tetap mengalir walau dia telah meninggal dunia, yang pertama dalah shodaqoh jariah, yang kedua adalah ilmu yang bermanfaat, dan yang ketiga adalah anak yang sholih dan sholihah yang mau mendoakan kedua orang tuanya” (H.R Muslim).

Dari hadits Rasulullah tersebut mengandung arti bahwa ibadah seperti salat, puasa, haji dan lainnya akan terputus amalnya ketika orang tersebut meninggal karena begitu meninggal seseorang itu pastinya tidak akan bisa salat, puasa maupun haji. Namun ada tiga jenis ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim, yang meski pun dia sudah wafat, pahala ibadah itu tetap saja terus mengalir kepadanya. Tiga ibadah itu adalah anak sholeh yang selalu mendoakannya, ilmu yang bermanfaat, dan shodaqoh jariyah.

Seperti halnya sobat membangun masjid di mana selama masjid itu masih digunakan untuk ibadah sobat memperoleh pahala atau dengan memyumbangkan kursi roda ke rumah sakit di mana setiap orang sakit menggunakannya sobat mendapat pahala, saat sobat menanam pohon pun sama. Setiap orang berteduh di bawahnya, menghirup oksigen yang dihasilkannya, meminum air yang disimpannya setiap itu pula (insa Allah) sobat memperoleh pahala.

Sungguh nikmat ketika kita telah meninggal namun point-point pahala kita terus bertambah lantaran sebatang pohon yang dengan ikhlas kita tanam dan rawat hingga tumbuh terus memberikan manfaat. Sebuah investasi tanpa henti untuk memperoleh tiket surga.

 

No

Kesalahan

Perbaikan

1

Pohon pun menjadi tempat tinggal dan mencari makan berbagai organisme mulai dari burungkupu-kupuulat bulu, bahkan organisme-organisme yang tidak kasat mata.

Pohon pun menjadi tempat tinggal dan mencari makan berbagai organisme mulai dari burungkupu-kupuulat bulu, bahkan organisme-organisme yang tidak terlihat oleh mata.

2

Menanam pohon dapat dianggap sebagai sedekah (shodaqoh) jariyah layaknya menyumbang pembangunan masjid, maupun mewakafkan tanah. Menanam pohon dapat dianggap sebagai sedekah (shodaqoh) jariyah seperti halnya menyumbang pembangunan masjid, maupun mewakafkan tanah.

3

Sungguh nikmat ketika kita telah meninggal namun point-point pahala kita terus bertambah lantaran sebatang pohon yang dengan ikhlas kita tanam dan rawat hingga tumbuh terus Sungguh nikmat ketika kita telah meninggal namun point-point pahala kita terus bertambah karena sebatang pohon yang dengan ikhlas kita tanam dan rawat hingga tumbuh terus

4

Setiap orang membutuhkan air untuk minum dan aneka kebutuhan lainnya termasuk untuk bersuci (wudlu). Setiap orang membutuhkan air untuk minum dan berbagai kebutuhan lainnya termasuk untuk bersuci (wudlu).

 

Referensi : http://alamendah.wordpress.com/2011/05/18/menanam-pohon-investasi-tiket-masuk-surga/

Leave a comment »

Pembuatan Ontology Learning Object Pada E-Learning

 

  • Latar Belakang

Perkembangan internet dan e-learning [1] dengan aplikasi dan tools baru yang menyertainya, secara cepat telah mengubah bentuk atau cara pembelajaran yang lama. Pada cara pembelajaran yang lama, content e-learning yang merupakan salah satu komponen e-learning didistribusikan dengan gaya semi terstruktur. Prinsipnya content tersebut dapat diakses secara online. Namun dalam memperoleh content yang sesuai banyak menemui masalah yang disebabkan terbatasnya pemberian kata kunci pada content tersebut. Sayangnya, web (termasuk e-learning) dibuat untuk konsumsi manusia, bukan untuk mesin. Mesin hanya dapat membaca web tapi tidak memahami isi dari web

tersebut. Sehingga pencarian content sangat tergantung dengan kata kunci yang diberikan pada content tersebut. Web semantik [2,3] sebagai generasi baru dari teknologi web sangat menjanjikan untuk diterapkan pada e-learning. Teknologi web semantik membuat web atau komponen dalam web tersebut dapat dipahami oleh mesin. Cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menambahkan metadata ke dalam web atau komponen web. Dalam perkembangannya e-learning content berubah menjadi learning object [4] dengan adanya penambahan metadata [5]. Adanya tambahan metadata tersebut dapat membuat isi dari learning object menjadi lebih tepat untuk dikenali.

Masalahnya adalah learning object yang ada masih belum terorganisasi sehingga perlu dibuatkan ontology [6] yang dapat memudahkan dalam proses mencari dan mendapatkan learning object tersebut. Tujuan penulisan ini adalah merancang dan membuat ontology Learning Object yang dapat digunakan untuk mencari dan mendapatkan materi

dalam web e-learning. Dalam penulisan ini akan di jabarkan proses pembuatan dari ontology mulai dari

pendefenisian, pembuatan dan penimpanan ontology, semantik ke dalam database dan pengujian.

 

2. Pendefinisian komponen Ontology

Komponen pembangun ontology terdiri dari Class dan Property.

 

2.1 Komponen Class

Komponen Class didefinisikan berdasarkan kajian terhadap standar LOM (Learning Object Metadata). Tidak semua metadata dalam standar LOM digunakan dalam mendefinisakn class, hanya sebagian yang dianggap penting saja yang digunakan di sini. Dalam penelitian ontology learning object ini, mengklasifikasikan class menjadi sepuluh class utama (dokumen, jenis dokumen, materi, orang, status dokumen, tingkat interaksi, tingkat kesulitan, tingkat pendidikan, tipe interaksi, tipe materi), beberapa class utama tersebut masih terbagi menjadi subclass. Dari kesepuluh class yang sudah terdefinisi tidak semuanya memegang peranan penting dalam pemodelan ini. Hanya class dokumen dan materi yang menjadi pokok perhatian. Class yang lain tetap dimodelkan dengan pertimbangan dapat dikembangkan di masa yang akan datang.

 

  • Perumusan Masalah
  1. Bagaimana penjabaran proses pembuatan ontology beserta impelementasinya untuk dimanfaatkan dalam proses pencarian suatu learning object?
  2. Bagaimana hasil pencarian yang dilakukan dengan memanfaatkan ontology?

 

  • Metodelogi

Dalam penulisan artikel ini, pembahasan dibatasi pada penyebatan dan perencanaan pembuatan ontology hingga didapat penjabaran proses pembuatan ontology beserta implementasinya untuk dimanfaatkan dalam proses pencarian suatu learning object.

 

  • Inti Pembahasan

Hasil dari ontology yang dirancang dan dibuat, mampu untuk dapat mengorganisasikan learning object ke dalam domain tertentu, sehingga hasil pencarian berdasarkan ontology pun dapat memberikan hasil yang maksimal serta beragam. Selain itu, pemberian kata kunci pada learning object juga dapat berpengaruh kepada hasil pencariannya.

Dalam pembuatan onlotogy, pendefinisian class juga sangat berpengaruh bagi pengelompokan learning object. Semakin detail class yang dibuat, maka semakin dekat pula hubungan antar learning object yang berada dalam satu kelompok yang sudah ada.

Selain itu, kesesuaian dan juga ketepatan dalam hasil pencarian sangat ditentukan oleh berapa banyak kata kunci yang terdapat dalam learning object serta pendefinisian class dalam ontology.

 

  • Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan selama proses perancangan, implementasi, uji coba dan analisa, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Ontology yang dihasilkan sudah mampu untuk mengorganisasi learning object ke dalam

domain tertentu.

2. Hasil pencarian berdasarkan ontology memberikan hasil yang lebih beragam.

3. Pemberian kata kunci pada learning object sangat mempengaruhi hasil pencarian.

4. Pendefinisian class dalam pembuatan ontology sangat berpengaruh kepada pengelompokan   

    learning object. Semakin detail class-class yang dibuat, semakin dekat hubungan antar

    learning object yang berada dalam satu kelompok.

5. Ketepatan dan kesesuaian hasil pencarian ditentukan oleh berapa banyak kata kunci yang

terdapat dalam learning object serta pendefinisian class dalam ontology.

 

  • Daftar Pustaka

[1] URL:

http://ltc.lionair.co.id/mod/forum/discuss.ph p?d=6.

[2] Hebeler, John., Matthew Fisher., Ryan Blace and Adrew Perez-Lopez.2009, Semantic Web Programming. Wiley. Indianapolis. Publishing, Inc.

[3] Henze, N., Peter Dolog and Wolfgang Nejdl, 2004, “Reasoning and Ontologies for Personalized E-Learning in the Semantic Web”.

[4] URL: http://en.wikipedia.org/wiki/Learning_object.

[5] Learning Technology Standards Committee.2002, “Draft Standard forLearning Object Metadata”.. New York. 2

Institute of Electrical and Electronics Engineers, Inc

[6] Bernard Renaldy Suteja & Ahmad Ashari. 2008, “Ontology e-Learning Content berbasis Web Semantic”.

[7] Horridge, Matthe.W, 2009, A Practical Guide To Building OWL Ontologies Using Prot´eg´e 4 and CO-ODE Tools Edition 1.2. The University Of Manchester.Manchester.

[8] Murray, Chuck, 2010, Semantic Technologies Developer’s Guide 11g Release 2 (11.2). Oracle

[9] URL: http://www.w3.org/1999/07/13-persistant-RDFDB

[10] Yu, Liyang, 2007, Introduction to the Semantic Web and Semantic Web Services..London. Chapman & Hall/CRC

[11] URL: http://space.meruvian.org/jeni/JENI_1_Materi.zip?attredirects=0&d=1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment »

Pengaruh Bahasa Indonesia Untuk Dunia

Dalam pembahasan tulisan kali ini, Bahasa Indonesia masih akan tetap menjadi topic hangat yang saya post. Peranan bahasa bagi dunia tentu sangat berpengaruh besar, ditambah lagi dengan keberagaman bahasa dari seluruh Negara bahkan dunia.

Bahasa Indonesia ialah merupakan bahasa resmi Republik Indonesia dan juga termasuk ke dalam bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia adalah bahasa kerja (working language).

Berikut ini beberapa point yang menjelaskan fungsi bahasa :

  1. 1.       Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri

Disaat seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya itulah masa dimana anak-anak mulai mempelajari pentingnya berbahasa. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak akan lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.

Contoh lain dari pembahasan bahasa sebagai alat ekspresi diri yakni, tulisan kita dalam sebuah buku,  merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.

Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, tentunya pengguna bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.

Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :

–         agar menarik perhatian orang  lain terhadap kita,

–         agar orang tetap memperhatikan kita ketika sedang berbicara,

–         keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi

Menurut Gorys Keraf, pada taraf  permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang  sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri .

  1. 2.        Bahasa sebagai Alat Komunikasi

Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.

Bahasa sebagai alat komunikasi yaitu merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Gorys Keraf mengatakan bahwa ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita.

Disaat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, pastilah kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami dan juga diperhatikan oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.

Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional.

Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri.

Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal,asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.

  1. 3.        Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial

Disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat  hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Gorys Keraf mengemukakan bahwa beliau memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya

Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati .

Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

  1. 4.      Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial 

Bahasa sangat berperan efektif sebagi alat kontrol sosial. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.

Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. klan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.

Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

Dari sudut pandang linguistika, bahasa Indonesia adalah suatu jenis yang berasal dari bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19, namun mengalami perkembangan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja dan proses pembakuan di awal abad ke-20. Hingga saat ini, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.

Meskipun saat ini dipahami oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa Indonesia tidak menduduki posisi sebagai bahasa ibu bagi mayoritas penduduknya. Sebagian besar warga Indonesia berbahasa daerah sebagai bahasa ibu. Penutur bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Namun demikian, bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di surat kabar, media elektronika, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.

Fonologi dan tata bahasa bahasa Indonesia dianggap relatif mudah.  Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.

Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi bahasa Melayu karena dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Alfred Russel Wallace menuliskan di Malay Archipelago bahwa “penghuni Malaka telah memiliki suatu bahasa tersendiri yang bersumber dari cara berbicara yang paling elegan dari negara-negara lain, sehingga bahasa orang Melayu adalah yang paling indah, tepat, dan dipuji di seluruh dunia Timur. Bahasa mereka adalah bahasa yang digunakan di seluruh Hindia Belanda.” Selanjutnya, Jan Huyghen van Linschoten, di dalam buku Itinerario (“Perjalanan”) karyanya, menuliskan bahwa “Malaka adalah tempat berkumpulnya nelayan dari berbagai negara. Mereka lalu membuat sebuah kota dan mengembangkan bahasa mereka sendiri, dengan mengambil kata-kata yang terbaik dari segala bahasa di sekitar mereka. Kota Malaka, karena posisinya yang menguntungkan, menjadi bandar yang utama di kawasan tenggara Asia, bahasanya yang disebut dengan Melayu menjadi bahasa yang paling sopan dan paling pas di antara bahasa-bahasa di Timur Jauh.”
Jadi dapat ditarik kesimpulan yang telah dilihat dari sejarahnya bahwa bahasa indonesia itu bisa saja di jadikan bahasa internasional. karena bahasa indonesia digunakan di asia tenggara dan juga di dunia, karena di timor leste saja bahasa indonesia digunakan sebagai bahasa kerja. dan bahasa indonesia diambil dari bahasa melayu dan katanya bahasa indonesia itu bahasa yang dianggap relatif mudah, tapi pada kenyataannya padahal orang indonesia sendiri ada yang sulit untuk menggunakan bahasa indoneisa yang benar. jadi tidak ada salahnya apabila seluruh dunia mengenal bahkan bias mempelajari bahasa Indonesia.

Di zaman sekarang ini, pemakaian bahasa sudah sangat mendunia. Setiap penduduk sudah banyakbisa berkomunikasi dengan warga yang berbeda Negara. Karena masing-masing individu merasa penasaran dan ingin mempelajari secara mendalam bahasa yang ingin dipelajarinya. Bahkan kini, misalnya saja di Negara Arab Saudi.

Bahasa Indonesia di Arab Saudi semakin lama memang dirasakan semakin popular, bukan saja karena banyaknya jumlah  komunitas Indonesia di Arab Saudi, namun juga karena berbagai upaya Perwakilan RI dalam mempromosikan bahasa Indonesia di Negara petro dolar tersebut.

Salah satu nya adalah lewat lomba pidato bahasa Indonesia bagi penutur asing dengan tema “Aku Cinta Belajar Bahasa Indonesia” yang diadakan pada 4 Juli 2012 di kantor KJRI Jeddah. Kegiatan yang diadakan dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan RI ke-67 tersebut mendapatkan perhatian tersendiri  dari warga asing khususnya warga Arab Saudi. Sebanyak 9 warga asing ikut berkompetisi dalam lomba yang baru pertama kalinya diadakan di Arab Saudi. Tercatat 1 orang warga sudan, dan 8 orang warga Arab Saudi menampilkan kebolehannya berpidato di hadapan sekitar 50 penonton yang terdiri dari para warga Asing.

Acara yang disponsori oleh Garuda Indonesia dan Restoran Betawi – Jeddah ini dihadiri oleh Plh. Konjen RI Jeddah Cahyono Rustam, Fikdanel Thaufik GM Garuda Indonesia Arab Saudi, Hussein Muhammad Daghiri Kepala Siaran Bahasa Asiang Radio Kerajaan Arab Saudi, Miftahul Jannah Kepala Seksi Siaran Bahasa Indonesia Radio Kerajaan Arab Saudi dan para peserta Kursus bahasa Indonesia di KJRI Jeddah. Bertindak selaku Dewan Juri  Nur Ibrahim Pelaksana Fungsi Pensosbud II, Muzaffar Syahidu dan Rafiq Rakip kedua nya adalah pegawai KJRI Jeddah. Ketua Panitia HUT RI Moehammad Amar Ma’ruf dalam sambutannya mengatakan bahwa lomba pidato bahasa Indonesia bagi penutur asing merupakan bagian dari upaya Perwakilan RI untuk mempromosikan bahasa Indonesia di Luar Negeri, dan meningkatkan people to people contact.

“Indonesia adalah Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Jumlah penduduk Indonesia saat ini lebih dari 250 juta jiwa. Selain itu, Indonesia adalah Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Saat ini, bersama Arab Saudi, Indonesia masuk dalam Negara kelompok G-20. Artinya semakin hari posisi Indonesia semakin penting bagi dunia Internasional. Karena posisi Indonesia semakin penting di dunia maka peran bahasa Indonesia di dunia juga semakin penting,” demikian diungkapkan oleh Dr, Redha Siraj Al-Thigah dalam pidatonya yang mengantarkanya menjadi Juara I dalam lomba tersebut.

Al-Thigah, yang meraih gelar doktor dari University of Brandford Singapura berhasil membawa pulang tiket Garuda Indonesia Jeddah – Jakarta – Jeddah. Kepada para peserta lain diberikan voucher makan gratis masing-masing senilai SR 125 di Restoran Betawi Jeddah. Di sela-sela acara juga diadakan penyerahan sertifikat peserta kursus bahasa Indonesia di KJRI periode bulan Maret – Mei 2012 yang diserahkan oleh Plh Konjen RI Jeddah Cahyono Rustam. Cahyono Rustam menambahkan bahwa KJRI Jeddah telah mengadakan kursus bahasa Indonesia bagi penutur asing sejak tahun 2004 hingga saat ini. Warga asing di Arab Saudi menyambut baik Kursus BIPA ini, terbukti tidak kurang dari 40 orang tiap tahunnya mendaftarkan diri untuk mngikuti kursus yang diadakan 2 kali seminggu secara gratis. Di akhir acara panitia juga mempromosikan kuliner Indonesia melalui hidangan santap malam dengan menyajikan sate, sop ikan, dendeng balado, perkedel dan capcay dari Betawi Restaurant. Terlihat para peserta dan penonton sangat menyukai menu Indonesia.

 

Dari kutipan cerita mengenai peranan bahasa Indonesia di salah satu Negara dunia yaitu Arab Saudi, maka kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia tentunya harus merasa bangga, bahasa resmi kita justru sangat dihargai oleh bangsa Arab Saudi, bahkan mereka ingin mengikuti kursus bahasa Indonesia.

Jika saya mempunyai wewenang untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia, maka dengan bangga tentunya saya akan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia. Alasan terkuat dari hal tersebut karena bahasa Indonesia susunan katanya jelas, mempunyai makna yang rapi, dan mudah dimengerti.

 

 

Referensi:

1. http://www.hidayatullah.com/read/23527/08/07/2012/bahasa-indonesia-mulai-diminati-di-arab-saudi.html

2. http://sandhyswanzz.blogspot.com/2012/10/peranan-bahasa-indonesia-di-dunia.html

Leave a comment »

Peranan Bahasa Indonesia untuk Bangsa Indonesia

Hello bloggers!

Dalam tulisan kali ini, saya akan membahas mengenai “Peranan Bahasa Indonesia untuk Bangsa Indonesia”.

 

Sudah kita ketahui sejak dulu, bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi dari bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa Indonesia, yang terdiri atas berbagai suku dan etnis dengan latar belakang bahasa berbeda.

Menurut Sunaryo, tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).

Sebagai lambang dari identitas nasional, bahasa Indonesia kita junjung disamping bendera dan lambang Negara kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri pula sehingga ia serasi dengan lambang kebangsaan kita yang lain. Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya hanya apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur – unsur dari bahasa lain.
Fungsi bahasa Indonesia yang ketiga – sebagai bahasa nasional – adalah sebagai alat perhubungan antar warga , antar daerah, dan antar suku bangsa. Berkat adanya bahasa nasional kita dapat berhubungan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kesalah pahaman sebagai akibat perbedaan latar belakang social budaya dan bahasa tidak perlu dikhawatirkan.kita dapat bepergian dari pelosok yang satu ke pelosok yang lain di tanah air kita dengan hanya memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya alat komunikasi.

Fungsi bahasa Indonesia yang keempat dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, adalah sebagai alat yang memungkinkan terlaksananya penyatuan berbagai – bagai suku bangsa yang memiliki latar belakang social budaya dan bahasa yang berbeda-beda kedalam satu kesatuan kebangsaan yang bulat. Didalam hubungan ini bahasa Indonesia memungkinkan berbagai bagai suku bangsa itu mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai – nilai social budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan. Lebih dari itu, dengan bahasa nasional itu kita dapat meletakkan kepentingan nasional jauh diatas kepentingan daerah atau golongan.

Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya yaitu setelah terjadinya Proklamasi Kemerdekaan republik Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Maka di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja.

Bila dilihat dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia merupakan salah satu dari banyak ragam bahasa melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu  (wilayah Kepulauan Riau) mulai dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20.

Menurut Gorys Keraf yang mengemukakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama.  Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.

Penamaan “Bahasa Indonesia” diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, pada tanggal 28 Oktober 1928, hal tersebut dilakukan untuk menghindari kesan “imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan.dalam hal ini juga, proses tersebut dapat menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun di  Semenanjung Malaya. Karena hingga pada saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan juga bahasa asing.

Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.

Menurut Tri Adi Sarwoko, mengemukakan bahwa bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh pewarta atau media massa untuk menyampaikan informasi. Bahasa dengan ciri-ciri khas yang memudahkan penyampaian berita dan komunikatif .

Selama ini masih banyak orang yang menganggap bahasa jurnalistik sebagai perusak terbesar bahasa Indonesia. Mereka menganggap bahwa bahasa jurnalistik sebagai bahasa lain yang tidak pantas dilirik.

Dan anggapan itu ada ternyata memang ada benarnya juga, karena kadang-kadang wartawan memang menggunakan bahasa atau kata-kata pasaran yang melenceng dari Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Tentunya bukan hal diatas saja, di sisi lain media massa juga yang acap kali “memasarkan” kata-kata yang agak kasar atau kurang berkenan diperdengarkan ataupun diperlihatkan kepada masyarakat yang melihat bahkan berinnteraksi dengan media massa secara langsung, sehingga masyarakat yang dahulu memang terbiasa dengan bahasa yang memang agak halus, lembut dan sopan (eufemisme), kini menjadi akrab dengan kata-kata kasar dan terlalu “blak-blakan”, misalnya saja seperti sikat, bakar, bunuh, darah, bantai, rusuh, rusak, provokatif, , penjara, pecat, jarah, serta obok-obok dan demo.

Selain itu, media massa juga kerap mengutip kata-kata yang salah, misalnya saja seperti halnya bentuk kembar sekedar-sekadar, cidera-cedera, film-filem, teve-tivi-TV. Dan bahkan ada saja media yang memang memakai risiko, ada yang resiko. Ada yang memakai sekedar, ada yang sekadar.

Ada pula media massa yang dengan tanpa dosa menuliskan kata ganti kita, padahal yang seharusnya adalah kata kami.

Sebagai bahasa pemersatu, bahasa Indonesia tentu saja sangat berperan aktif serta berperan besar dalam dunia jurnalistik. Dapat kita bayangkan apabila setiap media massa menggunakan bahasa daerah lengkap dengan dialeknya masing-masing. Tentu hal tersebut akan membuat sedikit terlitat atau terdengar lebih mudah dicerna oleh masyarakat.

Namun demikian, untuk memperkaya khasanah bahasa dan untuk tetap menghidupkan bahasa daerah, maka dengan ini banyak media massa yang memuat rubrik tertentu dengan menggunakan bahasa daerah, bahkan media massa televisi pun mulai membuat acara khusus dengan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantarnya.

Bahasa Indonesia juga berperan menjembatani ketidaktahuan atau kekurang-pahaman masyarakat Indonesia akan bahasa asing dalam media massa yang terdapat di Indonesia. Dapat kita bayangkan bahwa “Apa jadinya apabila semua isi dari  berita, film, ataupun siaran dari mancanegara disajikan atau ditayangkan begitu saja tanpa pengantar bahasa Indonesia oleh media massa kepada masyarakat Indonesia?” Tentu saja kita sebagai masyarakat Indonesia yang menyimaknya akan kebingungan karena keterbatasan pengetahuan bahasa dank arena tidak adanya pengantar bahasa Indonesia nya sendiri.

Sebagai tambahan, bahwa kiranya perlu di sampaikan dalam tulisan kali ini, bahwa bahasa jurnalistik adalah merupakan sebuah laras bahasa, yaitu bahasa yang digunakan oleh kelompok profesi atau kegiatan dalam bidang tertentu saja. Selain laras bahasa jurnalistik, juga ada laras bahasa sastra, ekonomi, dan keagamaan.

Sebagai sebuah laras bahasa yang tak dapat berdiri sendiri, bahasa jurnalistik harus bersandar pada ragam bahasa, yakni ragam bahasa baku, karena hanya bahasa bakulah yang pemakaiannya luas dan memiliki ciri kecendekiaan. Maka dari itulah sebabnya, bahasa jurnalistik tentunya wajib memelihara bahasa Indonesia.

Ragam bahasa baku ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern yang setara dengan bahasa lain di dunia, sedangkan laras bahasa jurnalistik memerlukan pengungkapan diri secara modern.

Saat ini tantangan terhadap bahasa Indonesia, baik internal maupun eksternal, merupakan hal yang tidak hanya mengancam eksistensi bahasa Indonesia. Bahkan menimbulkan konsekuensi ancaman tersebut tidak hanya sebatas mengancam eksistensi bahasa Indonesia, namun menjadi sangat penting karena berkaitan erat dengan bahasa sebagai identitas dan kepribadian dari bangsa. Apabila dihayati dari prosesnya, awalnya masyarakat merubah gaya bahasanya dan baru setelah itu akan mempengaruhi tingkah lakunya sehingga akan mengalami kegamangan norma dan juga kepribadian berkaitan dengan identitas sosial. Fenomena tingginya angka kriminalitas dan kenakalan remaja di masa kini, telah menjadi sebuah bukti dari kegamangan tersebut. Hal itu tidak terlepas dari pandangan manusia sebagai substansi dan manusia sebagai makhluk yang mempunyai identitas.

Kemudian kegamangan kepribadian tersebut membuat kesadaran bersatu meluntur. Tantangan disintegrasi bangsa semakin tinggi. Fenomena tawuran antar desa hingga antar suku merupakan salah satu jawaban yang dapat menyingkap kurang mengakarnya peran bahasa Indonesia sebagai penyatu bangsa. Dalam konteks kesadaran bersatu inilah seharusnya kita dapat belajar dari kepemimpinan dimasa Orde Baru dalam mengopinikan “persatuan” meskipun dengan cara yang represif dan harus di evaluasi.

Selama ini usaha untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sudah banyak dilakukan. Hal ini terlihat dari mulai membaiknya badan perencanaan bahasa yang ada di Indonesia. Bahkan badan tersebut bekerjasama dengan badan perencanaan di negara Malaysia dan Brunei, karena sama-sama berbahasa Melayu, yang sudah melakukan berbagai penelitian dan melakukan perencanaan internasional. Namun usaha tersebut masih dalam tataran struktural dan politis, belum merambah “akar rumput” yang merupakan basis kultural dan mengakar. Kesadaran dari pemerintah, media, dan masyarakat terhadap konsep bahasa persatuan terlihat masih sangat rendah sekali. Usaha para budayawan dan ahli bahasa Indonesia belum didukung penuh oleh kebijakan strategis dan merakyat dari pihak pemerintah sendiri. Ditambah lagi peran media yang semakin luas yang tidak diimbangi oleh usaha sosialisasi bahasa Indonesia yang baik dan benar membuat masyarakat kini lebih merespon stimulasi dari asing serta semakin jauh dari kaidah berbahasa yang benar. Bukan berarti masyarakat harus menutup diri dari pengaruh asing, namun akan tetapi kemampuan untuk menyaring informasi, gaya bahasa, dan perilaku inilah yang menjadi pokok masalah terjadinya kegamangan identitas.

Dinamika antara potensi dan tantangan atau realita yang dialami bahasa Indonesia saat ini merupakan suatu data yang dapat dijadikan sumber prediksi bagi eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di masa depan. Dalam konteks bahasa Melayu, Collins menyatakan bahwa peran bahasa Melayu akan semakin berkembang, baik di kawasan Asia Tenggara maupun di belahan bumi yang lain. Di luar Asia Tenggara bahasa Melayu dipelajari di delapan Negara Eropa dan dua Negara di Amerika. Jumlah penutur bahasa Melayu dalam waktu dekat ini akan terus meningkat. Hal ini akan meningkatkan prestise di kalangan para penuturnya yang kemudian akan mempengaruhi sikapnya untuk lebih positif terhadap bahasa Melayu. Terlebih menurut prediksi dari Collins, pengaruh bahasa Inggris belum begitu jelas di Asia Tenggara pada masa depan.

Pengaruh secara global bahasa Melayu tersebut tentunya akan juga berpengaruh di Indonesia meskipun akan membutuhkan proses yang sangat lama. Pengaruh tersebut berkaitan juga tingkat kesadaran pemerintah, media, dan masyarakat Indonesia tentang pentingnya bahasa Indonesia sebagai pemersatu. Kesadaran ini tidak hanya pada bagian luar pemahaman saja, namun selayaknya menjadi penghayatan dan pengidentifikasian seluruh masyarakat sebagai satu bangsa.

Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.  Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek.

Salah satu butir tujuan pembinaan bahasa Indonesia ialah membina sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Hal ini memberikan isyarat bahwa madsalah sikap merupakan faktor yang paling menentukan keberhasilab pembinaan tersebut. Dari sikap positif inilah akan tumbuh kecintaan dan kebanggan berbahasa Indonesia.
Sikap positif terhadap bahasa Indonesia akhit-akhir ini memang sudah menampak, walaupun belum seperti yang kita harapkan. Hal ini berarti bahwa pembinaan bhasa Indonesia yang telah dilaksanakan oleh pemerintah dalam berbagai bentuknya telah menmpakkan hasil yang cukup menggembirakan. Bahasa Indonesia telah memperlihatkan peranannya dalam kehidupan bangsa Indonesia, baik sebagai sarana komunikasi maupun sebagai pendukung ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan supaya bahasa Indonesia benar-benar menjadi kebanggan kita sebagai bangsa Indonesia.

Apabila kita berbicara tentang gengsi sosial dalam huungannya dengan bahasa Indonesia secar jujur masih memerlukan penanganan yang serius, baik yang menyangkut pembinaan maupun pengembangannya. Gengsi sosial bahasa Indonesia masih terlihat kalat bila dibandingkan dengan dengan gengsi sosial bahasa asing (terutama bahasa Inggris) memang kita akui, dan ahal ini merupakan tantangan. Namun dalam hal ini janganlah kita tinggal diam dan pesimis. Sebaliknya, kita harus nelakukan upaya-upaya positif yang dapat mengangkat gengsi sosial atau martabat bahasa Indonesia sehingga dapat sejajar dengan bahasa-asing yang sudah maju, mempunyai nama (prestise), dan berpengaruh besar di kalangan masyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan agar bahasa Indonesia mempunyai gengsi sosial yang tinggi di kalangan masyarakat Indonesia adalah memberikan penghargaan yang proporsional kepada anggota masyarakat yang mampu berbahasa Indonesia (baik lisan maupun tulis) dengan baik dan benar, sebagai bagian dari porestasi yang bersangkutan. Misalnya, sedbagai persyaratan pengangkatan pegawai negeri atau karyawan, sebagai perssuaratan promosi jabatan, pemberian royalti yang layak kepada penulis/pengarang di bidang masing-masing dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Referensi :

1. http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia

2. http://hilaliyah.wordpress.com/2011/09/24/peranan-bahasa-indonesia/

Leave a comment »

Perilaku Produsen

Dalam artikel yang akan saya post-kan kali ini yaitu mengenai “Perilaku Produsen”. Karena di masa kini, dunia perekonomian yang didalamnya terdapat perikalu ekonomi, pasti bersangkutan dengan tiga pokok dari kegiatan ekonomi, salah satunya yaitu “produsen”.
Berikut ini merupakan penjelasan tentang produksi. Produksi merupakan konsep arus (flow consept), yang mengandung pengertian bahwa kegiatan produksi dapat diukur dari jumlah barang-barang atau jasa yang dihasilkan dalam suatu periode waktu tertentu, sedangkan kualitas barang atau jasa yang dihasilkan tidak akan berubah atau tetap.
Dalam suatu perusahaan, pelaku perusahaan seperti manajer, karyawan, dan komponen lainnya termasuk ke dalam perilaku produsen. Suatu perkumpulan mendirikan perusahaan tentu mempunyai tujuan. Berikut ini meruppakan tujuan dari perusahaan :

  •  Maksimisasi Sumberdaya (Tenaga Kerja)
  • Maksimisasi Output (Penjualan)
  • Maksimisasi Growth (Pertumbuhan)

Selain itu, suatu perusahaan yang didirikan juga tentunya memiliki kategori dari kegiatan produksi yang setiap hari dijalaninya, yaitu sebagai berikut :

 

  • Produksi sesuai pesanan (custom-order production)
  • Produksi massal yang kaku (rigid mass production)
  • Produksi massal yang fleksibel (flexible mass production
  • Proses atau aliran produksi (process or flow production)

Dalam perilaku produsen, tentu kita akan menemukan fungsi-fungsi yang didapat dari perilaku produsen yang telah dijalani tersebut. Fungsi produksi yaitu sebagai berikut:

 

  • Model matematis yang menunjukkan hubungan antara jumlah faktor produksi (input) yang digunakan dengan jumlah barang atau jasa (output) yang dihasilkan.
  • Fungsi Produksi Total (Total Product): TP

TP ↔ Q = f(L, K); L = tenaga kerja, K = Modal

  • Produksi rata-rata (Average Product): AP

APL = TP/L atau APK = TP/K

  • Produksi Marjinal (Marginal Product): MP

MPL = ∆TP/∆L atau MPK = ∆TP/∆K

Di dalam perilaku produsen terdapat hokum-hukum yang berlaku. Salah satunya yaitu The Law of Diminishing Return. Hukum yang menyatakan berkurangnya tambahan output dari penambahan satu unit input variabel, pada saat output telah mencapai maksimum. Dalam hokum tersebut, belaku asumsi sebagai berikut :
1. Hanya ada satu unit input variabel, input yang lain tetap.
2. Teknologi yang digunakan dalam proses produksi tidak berubah.
3. Sifat koefisien produksi adalah berubah-ubah

Leave a comment »